|
Adalah sebuah kegelisahan yang
lalu mengusik rasa dan selanjutnya melahirkan ide untuk terus
berkutat menelaah dunia perempuan yang dalam realitas
kesehariannya berada dalam lingkar peminggiran, subordinat,
terdiskriminasi, dilecehkan bahkan menjadi obyek tindak kekerasan.
Kenyataan pahit yang terungkap melalui sebuah penelitian yang
dilakukan oleh sekelompok mahasiswi inilah yang melatar belakangi
berdirinya Yayasan Annisa Swasti (YASANTI).
Peminggiran terhadap perempuan tentu
harus dikaji lebih lanjut yang kemudian dilakukan upaya untuk
mencari sumber-sumber atau faktor-faktor penyebabnya. Sejak awal
telah disadari bahwa upaya untuk mewujudkan keinginan tersebut
tidak semudah membalikkan telapak tangan. Betapapun ini
harus berhadapan dengan tatanan sosial, budaya yang telah mengakar
dan telah disepakati oleh masyarakat.
Malalui pergulatan pemikiran
para pendiri yang tak sederhana, ditetapkan Yasanti berkiprah pada
lapisan masyarakat bawah (grass roots) yang dipandang banyak
terkena imbas laju perubahan kehidupan. Dari lapisan ini, Yasanti
menentukan pilihannya pada kelompok perempuan sebagai kelompok
dampingannya. Pilihan terhadap perempuan tentu kembali didasari
oleh keprihatinan atas realitas peminggiran kaum perempuan.
Pemberdayaan kaum perempuan untuk
meningkatkan kualitas hidup perempuan baik secara ekonomi, sosial
dan politik menjadi sebuah rumus bagi pergerakan Yasanti. Berbagai
kegiatan yagn tujuannya untuk menggalang kekuatan yang secara
garis besar terdiri dari pendampingan kelompok perempuan,
penelitian, penerbitan, pendidikan dan pelatihan demi mewujudkan
cita-cita mulia Yasanti yagn tercatat sebagai badan hukum dengan
akte notaris dari Umar Syambudi SH nomor 52/28 september 1982 dan
terdaftar di Pengadilan Negeri Yogyakarta pada hari Senin, 25
Nopember 1982 nomor 183/82/4.
Selengkapnya.. |